hayoo rencanakan keuangan masa depan sejak sekarang!

Perencanaan keuangan keluarga adalah merencanakan masa depan sedini mungkin untuk mencapai tujuan keuangan yang dicita-citakan melalui pengelolaan keuangan yang terencana, teratur dan bijak. Perencanaan keuangan lebih banyak berkaitan dengan keuangan pribadi (personal finance) daripada keuangan perusahaan (corporate finance), karena subjek perencanaan keuangan adalah pribadi atau keluarga, bukan perusahaan.  Perencanaan keuangan secara komprehensif dapat meningkatkan kualitas hidup dengan cara mengurangi kekhawatiran akan kepastian masa depan financial seseorang.  Begitulah penjelasan Bu Dwi kepada para Mahasiswa Perbankan Syariah dalam pertemuan kuliah pagi ini (Rabu, 19 September 2012).

Diharapkan dengan belajar mengenai perencanaan keuangan mahasiswa mampu untuk membuat skala prioritas kebutuhan dan bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut. Perencanaan keuangan syariah ini bertujuan untuk mempersiapkan keuangan yang mapan di masa yang akan datang serta untuk mengurangi resiko-resiko yang mungkin terjadi.

Namun sayang, di Indonesia masih sedikit sekali, individu maupun keluarga yang sudah menyusun perencanaan keuangan. Adapun penyebabnya adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat, individu ataupun keluarga tidak mempunyai tujuan keuangan yang jelas, individu ataupun keluarga selalu menganggap adanya keterbatasan waktu yang tersedia, keterbatasan ilmu dan pengetahuan bagaimana mengelola keuangan keluarga yang baik, dan individu ataupun keluarga belum mampu memilih produk keuangan yang semakin beragam.

Hal penting dalam perencanaan keuangan ini adalah harus dilandasi dengan nilai spiritualitas. Perencanaan keuangan seperti ini sering disebut dengan perencanaan keuangan syariah. Jika ada perencanaan keuangan syariah, sudah pasti ada yang disebut dengan perencanaan keuangan konvensional. Lalu apa bedanya? Tentu sangat lah berbeda antara keduanya. Jika kita lihat dari tujuan, perencanaan keuangan konvensional memiliki tujuan untuk merencanakan masa depan yang terjamin dan mencapai kekayaan (matrealistis) saja, berbeda dengan tujuan perencanaan keuangan syariah yang bertujuan untuk merencanakan masa depan, tanpa melupakan unsur takdir (tawakal) dan sukses dunia dan akhirat.

Pada perencanaan keuangan konvensional tidak memperhatikan unsur pembersihan harta (zakat, infaq, dan shadaqah), tetapi pada perencanaan keuangan syariah harus memperhatikan unsur cleansing of wealth, yaitu dengan menunaikan zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf.

Perlu diingat dalam menentukan tujuan keuangan haruslah realistis, spesifik dan terukur, harus memiliki target dengan membuat skala prioritas jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, dan terakhir haruslah ada tindakan yang harus dilakukan. Karena tanpa aksi, rencana sebagus apapun tidaklah bermakna.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s