Mantra yang Luar Biasa

Kamis, 8 March 2012

Pagi ini langit biru tertutup awan hitam. Tapi meski begitu, hujan tidak turun di pagi ini. Hembusan angin memberikan kesejukan menambah kesan bahwa pagi ini tidak ada sinar hangat nya mentari.

Hari ini aku masuk siang. Jam tujuh pagi aku masih berdiam di depan televisi. “Mel, jangan nonton tivi pagi-pagi. Cepetan kerja, nyapu kek, ngapain gitu jangan nonton tivi,” Ibu selalu berkata seperti itu. aku tetap tak bergeming dengan seruan Ibu, terkadang Ibu sampai jengkel, sudah keras-keras bersuara tadi tidak aku dengarkan. Maaf yah Bu :*.

Aku mematikan tivi lalu mengambil sapu di teras depan. Debu-debu halus bertebaran di setiap sudut lantai. Bukan hanya debu tapi beberapa lembar kertas juga ikut membuat kotor teras di rumahku. Mungkin itu kerjaan adik perempuan ku, yang terkadang membuang sampah sembarangan.

“Mel, kamu kuliah jam berapa. Kok belum rapi,” tanya Ayah pada ku. “Masuk jam 11 yah, nanti aku berangkat jam setengah sepuluh.” “Owh, gitu donk, berangkat lebih awal lebih baik. jangan sampai kamu terburu-buru kayak kemarin.” Aku hanya tersenyum, kalau gak terburu-buru itu bukan aku namanya Yah.

Lagi-lagi aku berangkat kesiangan, sudah hampir jam 10 kurang 10 menit. Aku masih menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang. Lagi-lagi perasaan panic itu menyelinap, takut telat.

“Mel, kamu ada dimana?,” salah seorang teman ku mengirim pesan pada ku. “Aku masih di jalan, sebentar lagi sampai,” aku menjawab asal. “Yaudah, saya tunggu yah di depan BRI kampus.” Beberapa menit kemudian aku tiba di depan gedung-gedung  bertingkat itu.

“Assalamu’alaikum,” aku menghampiri teman ku yang sudah menunggu didepan BRI. “Wa’alaikumsalam,” jawabnya. “Meli, kenalin ini Kak Muslim, beliau adalah kordiv. Kewirus tahun lalu.” Aku tersenyum kepadanya, “Meli.”

“Mel, ini uang div.kewirus tahun lalu, sekarang kamu yang menyimpannya yah. Ini juga ada beberapa pin, tolong dijualain ke teman-teman yah.” Aku dititipkan sebuah amanah yana cukup membuat ku pusing.

Hari ini ada kuliah di lantai enam, local 3.6.23. Mata kuliah hari ini adalah manajemen SDM. Dosennya adalah dosen PA (pembimbing akademik) ku, yaitu Pak Abdul Malik. Beliau menceritakan tentang diri beliau, dari pendidikan sampai dengan pengalaman kerja. Waw, mendengar cerita beliau ternyata banyak sekali pengalaman kerja beliau.

“Anak-anak, semua dari kita pasti bisa sukses, tapi dengan dua modal utama yaitu harus jujur dan tekun,” ucap Pak Malik pada kita.

Bukan hanya itu, beliau juga berkata bahwa kesuksesan seseorang itu dapat dilihat ketika usianya sudah 40 tahun. Jika pada usia 40 tahun dia sudah mencapai titik puncak tujuan, maka dia sudah dapat dikatakan berhasil. Tapi jika pada usia 40 tahun dia masih berada pada titik yang jauh dengan tujuan, maka dia tidak akan berhasil.

Pulang kuliah ada dua rapat yang harus aku hadiri. Tapi aku tidak bisa datang ke dua pertemuan itu sekaligus, aku harus memilih. Pilihan sudah aku tentukan. Rapat belum selesai tapi aku, Afifah, Aisyah dan Syifa  keluar duluan. Aku, Afifah dan Syifa sudah ada janji dengan Nadi dan Robi. Kita berlima mau nonton film “Negri 5 Menara”.

“Cepetan, udah mau masuk nih,” sms Nadi. “Iya, ini sebentar lagi sampai.” Setibanya disana, kita berlima langsung masuk ke dalam Studio bioskop, film nya sudah mulai. Ditengah-tengah cerita, tiba-tiba layar bioskop itu menjadi gelap. Filmnya tiba-tiba mati. Semua penonton pun merasa kecewa. Tapi kejadian buruk itu tidak berlangsung lama. Alur cerita yang semakin menarik pun berlanjut.

Film yang bagus menurut ku. memberikan banyak nilai kehidupan. Sebuah mantra hebat, “man jadda wa jadda” mantra hebat yang mampu mengubah mimpi menjadi pasti. Bukan hanya itu, aku menjadi semangat untuk menulis. Aku semakin yakin untuk menjadi seorang jurnalis Ekonomi Islam.

Sebuah kalimat sederhana masih terngiang di ingatan ku. Kata sederhana tapi memberikan efek luar biasa, “Seorang jurnalis mampu merubah dunia hanya dengan kata-kata.” Hebat bukan?

Dan satu lagi, pesan yang dapat aku ambil dari film itu. “Orang besar bukanlah seorang pengusaha yang kaya. Orang besar adalah orang yang mampu memberikan banyak manfaat untuk orang lain.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s