Hari yang melelahkan

 

Selasa, 6 March 2012

Udara pagi ini terasa dingin, sepertinya hujan baru saja reda, terlihat tetesan air dari ujung-ujung daun pepohonan, jalan-jalan basah dan banyak air yang tergenang. Aku sudah berpakaian rapi dengan baju ku yang serba coklat, celana, jilbab dan baju berwarna cokelat. Hari ini aku tidak naik kereta seperti hari-hari kuliah sebelumnya, aku lebih memilih untuk menggunakan angkutan umum.

Hari ini aku harus mempersiapkan diri karena akan berperang dengan 4 matakuliah yang bobotnya 3 sks semua. 4*3=12, subhanallah hari ini ada 12 sks berarti harus berjuang selama 12 jam. Jam kuliah dengan jam normal berbeda, 1 jam kuliah berarti 45 menit. 12*45= 540 menit, dan itu sama dengan 9 jam. Gak kebayang, hari ini harus belajar selama 9 jam, baru pertama kali ini, seperti itu.

Ketika pagi wajah teman-teman ku sangat ceria, senyuman tergurat di wajah mereka dan mereka terlihat begitu semangat. Tapi semangat kita sedikit pudar ketika tahu bahwa dosen pertama di hari ini tidak masuk. Padahal kami sudah datang cepat-cepat karena takut terlambat, tapi kecewa karena dosen yang ditunggu tidak datang. Baru jam 8, aku ada kelas 2 jam lagi. Akhirnya aku dan beberapa teman ku menunggu di PUSDATIN lantai 3. Sambil menunggu, ada saja hal aneh yang teman-teman ku lakukan.

Dua jam berlalu. Dosen matakuliah Muamalat Kontemporer datang lebih awal ke dalam kelas. Ketika aku dan bebrapa teman ku masuk ke dalam kelas, beliau sudah berada di kursi dosen Awal aku masuk kelas, beliau terlihat sangat tidak ramah. Tapi ternyata, beliau jauh dari dugaan ku. Beliau sangat ramah dan sangat unik. Dengan penuh semangat beliau memperkenalkan diri, aku pun yang tadinya sedikit malas bisa menjadi semangat kembali mendengar penjelasn beliau.

Dengan sedikit sindiran dan sedikit gurauan beliau dapat mengajak kami untuk tertawa. Bukan hanya mengenalkan diri, beliau juga sedikit menerangkan apa sih fungsinya belajar Fiqh Muamalat Kontemporer. Ternyata untuk seorang bankir atau officer di Bank, belajar fiqh muamalat kontemporer itu sangat penting. Fiqh Muamalat kontemporer itu sebenarnya lanjutan dari Fiqh Muamalat 1 dan 2. Hanya saja berbeda dari sudut pandang. Fiqh muamalat 1 dan 2 hanya mempelajari transaksi muamalat yang terjadi pada masa Rasulullah tapi jika Fiqh Muamalat Kontemporer itu lebih menyoroti pada lembaga keuangan syariah yang sedang berkembang saat ini. Oya menjadi seorang banker, dituntut harus kreatif dalam memodifikasi akad untuk meramu atau merangkai sebuah produk Perbankan Syariah ataupun mengembangkan produk perbankan yang sudah ada. Dan Fiqh muamalat kontemporer ini sangat penting, karena disini kita belajar untuk menemukan permasalahan pada produk perbankan syariah dan bagaiaman solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut. Jadi kesimpulannya seorang bankir harus mampu menguasai ilmu Fiqh muamalat kontemporer ini.

Oke, jam pun kian berlalu, akhirnya pertemuan pertama dengan Pak Azhar (dosen Fiqh Muamalat Kontemporer) pun selesai. Sedikit gambaran tentang metode pembelajaran dan materi apa saja yang akan kami pelajari. Ternyata kurang lebih ada 30 materi, dan tentu masih sama dengan kuliah-kuliah sebelumnya yaitu dengan metode diskusi.

Kami hanya memiliki waktu 1 jam untuk istirahat. Waktu istirahat kami pergunakan untuk makan siang dan shalat. Siang ini, aku, Syifa dan Afifah memilih untuk makan siang di pesanggrahan. Semangkuk soto daging dan Nasi, cukup untuk mengganjal perut kita yang keroncongan. Setelah makan, kita harus segera ke Fakultas kembali, karena kita harus shalat dan masih ada jam kuliah.

Lantai tiga gedung FSH menjadi tempat tujuan kami. Mushola kecil yang terdapat di sana adalah tempat para mahasiswa untuk shalat, baik berjamaah maupun tidak. Hanya ada empat keran yang bisa kita pergunakan untuk mengambil wudhu, dua untuk wanita dan dua untuk laki-laki dengan tempat yang terpisah tentunya. Tapi dari empat keran hanya ada tiga keran yang dapat dipergunakan dengan baik. Tentu, untuk berwudhu saja kita harus mengantri lama.

Selesai shalat, kita harus naik ke lantai enam. Local 3.6.23 menjadi kelas kami di siang ini. dosen-dosen ku ternyata sangat rajin. Jam 1 hanya lewat beberapa menit, Dosen Komunikasi Bisnis sudah datang. Nama beliau adalah Pak Iding.

Kominikasi, itulah suatu hal yang tidak bisa terlepas dari kita. Sebuah filosofi mengatakan, “We can not no communication” (Kita tidak bisa, tidak berkomunikai). Jadi intinya, belajar komunikasi bisnis itu penting, apalagi sebagai seorang mahasiswa. Oya, setiap orang memiliki cara berkomunikasi yang berbeda-beda loh.

Sama seperti dosen-dosen baru ku sebelumnya, beliau memperkenalkan diri dan menjelaskan bagaiaman metode belajar. Cukup unik, ketika beliau berkata “bagi mahasiswa yang tulisannya atau opininya bisa dimuat di media cetak, saya akan memberikan nilai A padanya tanpa mengikuti ujian.” Waw sebuah tantangan baru. Menarik dan harus dicoba. Aku jadi semangat untuk terus belajar menulis sebuah artikel. Beliau juga berkata bahwa tugas seoramg mahasiswa itu adalah membaca dan menulis. Dua komponen yang sangat penting untuk mempertajam pengetahuan dan kemampuan kita bukan?

Pertemuan hari pertama pada mata kuliah “Komunikasi Bisnis” tidak sampai selesai. Masih ada waktu 1 jam lagi untuk masuk ke kelas selanjutnya.

Lembaga Keuangan Syaruah Non Bank, itulah mata kuliah terakhir di hari ini. Wajah teman-teman ku sudah mulai berubah. Semua terlihat letih, dan tidak lagi bersemangat seperti tadi pagi. Dosen datang, tapi nampaknya akan terasa jenuh.

Tapi, jika diperhatikan penjelasan dosen yang tidak aku tahu namanya itu cukup menarik. Aku senang dengan dosen yang menjelaskan seperti itu. Jelas dan teratur.

Teman, belajar itu memang tidak mudah. Dibutuhkan waktu dan sebuah kesabaran. Jangan sampai semangat yang sudah tertanam hilang. Karena hilang semangat berarti hilang juga kemaun untuk terus belajar.

Hari ini memang melelahkan, tapi jika kita menikmati setiap prosesnya, rasa lelah itu akan hilang. Dan ilmu-ilmu yang kita dapat hari ini akan membayar semua rasa lelah itu. Teman, tujuan kita belajar disini adalah untuk memperjuangkan Ekonomi Islam. Tapi, tujuan itu tidak akan dicapai tanpa ada kesungguhan dari diri kita.

“Berusahalah sekuat tenaga hingga kau mencapai tujuan. Jika tidak, engkau akan hidup dalam kesusahan”.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s