Dinar dan Dirham

Dinar dan Dirham????

Hayooo siapa yang tahu, apa itu Dinar dan Dirham???

Ok, dinar adalah mata uang emas dan dirham adalah mata uang perak. Dalam sejarah perekonomian dunia, kita belajar sejarahnya dulu yukk, belum dapat diketahui secara tepat kapan mata uang emas-perak ini muncul untuk pertama kali. Nah, tapi dapat dipastikan mata uang emas-perak memang sudah muncul sebelum masa Islam.

Dalam bukunya Ali Sakti yaitu Ekonomi Islam dengan mengutip dari pendapat Hasanuzzaman dan Mahmood Sanusi, mengungkapkan pada masa sebelum Rasulullah SAW jazirah Arab sudah menggunakan uang Dinar (emas) yang berasal dari Syria (Byzantium) dan uang Dirham (perak) berasal dari Irak (Persia, Kerajaan Sassanian). Dan keadaan ini terus berlangsung hingga masa Islam.

Nah, ketika pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan, uang Dirham Persia beredar ketika itu seberat 14 karat (kira-kira 14 karat itu berapa gram yah, hiiihii cari tahu sendiri yah), dan diberikan tambahan tulisan tanda kekhalifahan Islam.

Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, pemerintahan Islam pertama kalinya memperkenalkan uang koin yang berciri khas Islam. Meski begitu uang koin yang lama, baik yang berasal dari Irak maupun dari Syria, tetap berlaku dan beredar di pasar. Artinya uang yang dikeluarkan Khalifah Ali hanyalah menambahkan uang beredar yang sudah ada, sehingga keduanya dipakai secara bersamaan pada waktu yang sama.

Sedangkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dimulailah penggunaan uang beredar berciri khas Islam secara nasional dengan meninggalkan penggunaan uang beredar lama yang berasal dari Byzantium dan Persia.

Nah itu dia sejarah tentang Dinar dan Dirham. Oya, dalam beberapa hadits disebutkan tentang penggunaan mata uang emas dan perak loh, bahkan Allah SWT juga menyebutkan dua logam mulia ini dalam menjelaskan beberapa mekanisme muammalah di Al-Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (Q.S At-Taubah: 34)

Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (Q.S Yusuf: 20)

Dan Demikianlah kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. (Q.S Al-Kahfi : 19)

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

Nah, dapat diakui bahwa emas-perak sebagai mata uang memiliki kekuatan untuk menstabilkan perekonomian. Mungkin kestabilan itu tercipta karena nilai intrinsik dan nilai nominal yang terdapat pada uang emas-perak itu sama.

Oya sebenarnya penggunaan emas dan perak sebagai mata uang itu masih menjadi perdebatan para ulama Islam loh. Soalnya, Rasulullah secara verbal menyetujui penggunaan uang jenis ini, namun tidak sampai tarif mewajibkan.

Dalam bukunya, Ali sakti yang mengutip pendapat Dodik siswantoro, mengungkapkan bahwa focus perdebatan ada pada isu pembatasan jenis mata uang, sehingga kelompok ulama dan pakar dalam Islam terbagi menjadi dua golongan.

Golongan pertama, yaitu golongan yang hanya membatasi mata uang pada emas dan perak. Tokoh-tokohnya antara lain: Abu Hanifah, Abu Yusuf, Mujahid, Nakha’I, Nabhani dan Baqir Sadr.

Golongan yang kedua, golongan yang tidak membatasi mata uang hanya pada emas dan perak. Tokoh-tokohnya antara lain: Shaybani, Ibn Taymiyyah, Ibn Hazm, Laith bin Sa’ad, Al-Zuhri, Yusuf Qardhawi dan Muhammad Taqi Usmani.

Huahhh, ternyata penggunaan emas-perak sebagai mata uang itu tidak semulus yang dibayangkan. Apalagi di dunia modern seperti sekarang, semua orang sudah meninggalkan alat pembayaran ini. Semua beralih pada uang yang praktis dan mudah tapi menjadi salah satu factor penyebab inflasi, yaitu fiat money.

Rabu, 29 February 2012 09.52 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s