Aku Sayang Ibu

Aku sangat merindukan Ibu. Aku rindu sentuhan hangat Ibu. Aku rindu saat Ibu mencium kedua pipiku. Aku rindu tidur di pangkuan Ibu. Aku rindu Ibu menghapus air mataku. Aku rindu saat Ibu membelai rambutku. Aku rindu nasehat-nasehat Ibu. Aku rindu saat Ibu memarahiku. Dan aku rindu segalanya tentang Ibu.

Hari ini Ibu berada di sampingku. Tergurat kerinduan di wajahnya setelah sekian lama tak berjumpa. Aku bersandar dibahunya, dan aku membisikkan sebuah kalimat di telinganya, “Aku sayang Ibu.”

Senyuman hangat tergores di bibirnya. Ibu memelukku erat. Aku merasakan betapa besarnya kasih sayang Ibu. Tanpa sadar aku meneteskan air mata.

Ibu menatap ku lekat. Dia biarkan aku menangis tersedu dihadapannya. Ketika aku lama menangis, sentuhan tangan lembut Ibu menyentuh pipi ku, dia menghapus air mata yang jatuh di pipiku. Aku merasakan betapa besarnya kasih sayang Ibu.

“Kiara, masih ingatkah kenangan indah masa kecil mu.”

Aku mengangguk kan kepala. Aku tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata.

“Dulu kamu sangat nakal. Kamu selalu saja membuat Ibu merasa kesal. Kamu selalu membuat masalah dengan teman-teman mu, dan kau selalu mengadu pada Ibu setelah itu. Kau sering merajuk. Kau sering marah pada Ibu. Masih ingat Kiara?,” Tanya Ibu pada ku.

“Iya Bu. Ketika aku nakal, ibu begitu sabar menghadapi kenakalan ku. Ketika aku di marahi teman-teman, Ibu selalu menghibur ku, Ibu bilang aku gak sendiri aku masih memiliki teman yang setia, dan teman itu adalah Ibu. Aku sering merajuk meminta ini dan itu, tapi Ibu selalu mampu menenangkan ku. Aku pun sering marah pada Ibu, tapi Ibu selalu meredakan amarah ku dengan sebuah sentuhan kasih sayang, Ibu tak pernah memukulku.”

Ibu tersenyum mendengar ucapan ku tentang Ibu.

“Kamu ingat, apa yang kamu bilang saat kamu merasa takut?,” Tanya Ibu pada ku.

“Tentu aku ingat. Aku selalu bilang “Aku gak mau jauh dari Ibu, aku mau selalu di samping Ibu. Aku takut jika harus jauh dari Ibu.”

Ibu kembali tersenyum. “Tapi Kiara kecil sudah tumbuh menjadi dewasa. Kiara kini telah mampu menghadapi masalah sendiri. Dan Kiara kini sudah mampu hidup mandiri. Tapi sebenarnya Ibu sangat merindukan Kiara kecil dulu, Kiara yang selalu berada di samping Ibu. Kiara yang selalu menangis di hadapan Ibu. Kiara yang selalu bercerita kepada Ibu tentang apapun itu .”

“Maafkan Kiara Bu, aku terlalu sibuk untuk bertemu dengan Ibu, jangankan untuk bertemu, memberi kabar pada Ibu tentang kedaan aku disana pun aku jarang, Ibu,,,,” air mata ku turun deras dan aku tak mampu melanjutkan kata-kata ku.

“Tidak, Ibu tidak pernah marah pada mu Kiara. Ibu sangat bangga pada mu. Kegigihan mu menuntut ilmu , adalah kebahagiaan dan kebanggaan Ibu. Kiara, kamu adalah anugrah terindah yang telah Allah berikan dalam hidup Ibu. Kamu adalah mutiara hati Ibu. Hanya mendengar suara mu saja, Ibu merasa senang karena Ibu yakin disana kamu baik-baik saja, karena Ibu selalu meminta pada Allah untuk selalu menjaga mu.”

“Ibu,,,,,”

“Kiara, hanya satu permintaan Ibu pada Allah. Ibu ingin selalu melihatmu bahagia. Kiara kau tahu, saat melihatmu menangis hati Ibu terasa sakit.”

Aku memeluk erat Ibu. “Ibu aku sayang Ibu. Kiara janji akan selalu membuat Ibu tersenyum dan bangga. Kiara janji.”

Ibu ku memang hebat. Kau tahu, ibu tak pernah menangis dihadapanku. Dia selalu berusaha tegar dan terlihat bahagia jika di hadapanku. Ibu adalah malaikat pelindung yang Allah kirimkan untukku. Sampai kapan pun, posisi Ibu di hatiku tak akan terganti.

Sampai kapanpun aku akan selalu sayang Ibu.

Love you Mom. You are my everything.

Kamis 22 December 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s